Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

tkvdw

Siapa nih yang suka baca novel? Saya rasa banyak yang suka baca novel. Apalagi novel-novel populer yang tengah difilmkan, pastinya banyak yang penasaran dan ingin membandingkan antara cerita dalam novel dan cerita di film. Eit, tapi sekarang saya tidak akan membahas perbedaan tersebut ya. Sekadar ingin menyoroti keberadaan novel-novel lama saja sih sebenarnya. Novel-novel lama saya kira sekarang jarang sekali dicari ketimbang novel-novel populer (perasaan penulis saja kali ya.. 😀 ). Ya, begitulah ironisnya. Jarang yang mau membaca novel-novel lama, apalagi menganalisisnya. Padahal ketika seseorang dikatakan mencintai sastra ia harus tahu apa itu sastra dan bagaimana sejarah sastra hingga sampailah pada novel-novel populer yang sekarang sedang digandrungi (padahal penulis sendiri juga entah, hehe).

Memang novel-novel lama terkadang sulit dimengerti. Masih menggunakan bahasa Melayu yang kita sulit mencernanya, atau terlalu banyak hal-hal yang tersirat yang membuat kita kebingungan dalam memaknainya. Tapi biar bagaimana pun, setidaknya kita pernah membaacanya. Agar kita minimal tahu perkembangan sastra di Indonesia dari lahir hingga sekarang. Meski mungkin ada yang lebih suka novel angkatan 2000’an-sekarang. Tapi disamping kerumitan novel lama, ia juga banyak sekali mengandung pelajaran lho. Buktikan saja!

Nah buat kamu-kamu yang belum pernah baca novel-novelnya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), saya ada sedikit gambaran nih. Sekadar analisis unsur pembangun sih, tapi semoga bermanfaat ya..

(Analisis unsur pembangun novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck di bawah ini merupakan tugas kelompok saya di salah satu mata kuliah. Bagi yang mau mengutip atau mengcopy, mohon sertakan sumbernya ya.. Terima kasih.)

Read more

Aku Adalah Gadis Kecil 19 Tahun

[Tulisan ini aku persembahkan untuk dia yang menyayangiku, untuk dia yang memberikan perhatian lebih padaku. Ya, dia.. Bibiku…

Semoga Allah memberikan kesembuhan padamu, Bibi.]

 

Aku Adalah Gadis Kecil 19 Tahun

“Ova, sebentar lagi Mba Arih ke sini. Bikinin kue buat Ova. Anak pinter itu harus apa?”

“Harrrusss sabarrr…”

“Pinter…”

Usia 6 tahun, kala semua masih baik-baik saja. Masih ada perhatian mamah, masih ada guyonan mamah, pun masih ada kekesalan mamah saat aku nakal, meski ia tak menunjukkannya secara langsung.

Hari-hari berlalu. Ada suatu yang aneh yang kutangkap dari mamah, meski aku tak mengerti apa yang terjadi dengan mamah. Mamah tak lagi menemaniku bermain, mamah tak lagi memarahiku ketika aku nakal, bahkan di sudut kamar itu, mamah sering menyendiri. Diam, seperti orang linglung. Sesekali aku penasaran mendekat, tapi ia hanya diam, tak menghiraukanku.

Waktu pun semakin merangkak, merangkak, dan merangkak. Meninggalkan cerita hangat itu, cerita layaknya anak kecil yang renyah dengan tawa bersama orang tuanya. Kini aku lebih sering bermain sendiri, sendiri, dan hanya sendiri. Aku tidak ingin bermain dengan teman-teman, karena aku takut mereka juga tak memedulikanku, seperti mamah yang mungkin lupa bahwa ia punya seorang anak kecil.

Belakangan rumahku ramai, orang-orang berseliweran keluar masuk rumahku. Mereka menemui mamah, mengajak ngobrol mamah, namun anehnya mamah hanya diam kemudian menangis terisak-isak. Aku tak tahu yang terjadi dengan mamah, aku tak mengerti mengapa orang-orang berseliweran keluar masuk rumahku hanya untuk melihat  mamah. Ada yang mereka sebut “Mbah”, ada pula yang mereka sebut “Ki”, aku tak mengerti. Tapi aku tak peduli, aku terus saja hanyut bersama mainan-mainan busuk yang justru seolah mencibirku.

Read more