Gila!

Dingin… agaknya itu yang begitu terasa saat ini. Ya, saat ini, di tempat ini, di lantai tiga Masjid Ulul Albab Unnes dingin itu menyergapku hingga menusuk sendi-sendi tulangku. Hembusan dingin nan tajam itu tak segan-segan mengepungku. Ia datang dari segala arah lewat celah-celah tembok yang justru mengizinkannya masuk. Ya, masuk kemudian menerkamku.

Kala itu, ketika tubuh ini tengah tersungkur,  rupanya ada yang sedang bermain-main di kepalaku, pun pakaian basahku agaknya tengah berkomplot dengan hembusan tajam nan beku itu. Menyerangku, dan terus menyerangku. Tapi rupanya ia tak terlalu kuat untuk sekadar melumpuhkan kakiku. Aku masih tetap mampu berjalan.

“Permisi Pak…”

“Owalah mba.. malah hujan-hujanan”

“Hehe nggeh Pak…”

Dialog singkat itu masih terekam jelas dalam ingatanku. Ya, dialog singkatku dengan seorang buruh bangunan di sebelah gedung B8 FBS. Hah, beliau tak mengerti mengapa aku melakukan ini. Pasti tak mengerti. Beliau tak mengerti apa yang aku rasakan hingga mau-maunya berlari hujan-hujanan. Ya, semua ini karena cinta. Cintaku pada pena. Jika waktu itu Ikal mengatakan Arai adalah seorang seniman gila, maka mungkin saat ini aku mengatakan bahwa aku adalah seorang sastrawan gila! Meski mungkin aku belum layak untuk dikatakan sebagai seorang sastrawan.

#Pukul 15.49 di lantai tiga Masjid Ulul Albab Universitas Negeri Semarang

Leave a Comment