Jarak dan Rindu

images (2)Adik, kau punya adik? Aku punya. Entah mengapa tiba-tiba aku teringat dia ketika akan menyalakan netbook ini. Aku teringat saat aku marah-marah gara-gara dia merusak bagian kunci penutup baterai netbook. Padahal rusak pun tidak lantas memengaruhi fungsi netbook alias netbook masih bisa digunakan dengan baik. Tapi memang dasar manusia, terkadang amarah mudah sekali diundang. Benar adanya ketika sabar disebut ilmu tingkat tinggi. Tapi ketika mengingat itu aku malah jadi sedih, merasa bersalah padanya. Ya, meski dia pun juga ceroboh, seringnya begitu, bercanda kelewatan. Tapi meski demikian, tetap saja, mengingat itu jadi sedih. Sejurus kemudian, kukirim pesan singkat padanya, meminta maaf jika aku banyak salah. Dia pun membalas hal yang sama, sama-sama minta maaf atas salahnya selama ini. Ah, jadi rindu dia. Hiks.. (emot nangis, ciwek)

Benar memang, ketika jarak mulai hadir di tengah-tengah kita, rasa rindu itu rajin sekali bertamu di rumah yang bernama hati. Jarak adalah pupuk yang paling ampuh untuk menumbuhsuburkan kerinduan. Jaraklah yang membuat kita bisa saling merenung, mengeja setiap nafas untuk belajar menjadi pribadi yang lebih arif dalam memaknai hidup. Ya, ini tentang jarak. Jarak yang semakin membuat kita berpikir, bahwa seseorang dalam hidup kita selalu punya arti, terlebih orang-orang dekat kita, keluarga misalnya. Tapi ironisnya, ketika jarak sedang tidak sedang bertamu di rumah hati ini, seringkali kita tak menyadari seberapa pentingnya mereka, seberapa berartinya mereka hingga kita menyia-nyiakan kebersamaan. Sibuk dengan gadget kita misalnya, padahal kebersamaan dengan keluarga bagi anak rantau macam mahasiswa adalah hal yang langka. Lantas, sadarkah kita? Entah. Yang kutahu seringkali kita tidak sadar. Seringkali demikian. Seringkali..

Semarang, 23 Juni 2016
Maafkan, Dik.. Maafkan Mbak.. :’)

Leave a Comment