Pertemuan, Menulis, dan Historia Cafe

Pertemuan. Apa yang kau pikirkan tentang pertemuan? Melepas rindu? Bisa jadi. Tapi lebih dari itu, pertemuan adalah sarana memperluas wawasan, memperluas pola pikir, memperluas persaudaraan, atau bisa juga memperluas pintu-pintu rizeki. Rizeki itu tidak melulu uang, bukan? Maka mengingat itu semua, pertemuan menjadi sesuatu yang tidak bisa diremehkan. Apalagi sampai diabaikan kualitasnya untuk sekadar nyecroll gadget. Meski aku sendiri juga masih belajar untuk menghargai sebuah pertemuan. Huehehe

Nah, ngomong-ngomong tentang pertemuan, kemarin aku sengaja mengagendakan waktuku untuk bertemu dengan salah seorang master blogger di kotaku. Namanya Mba Idah, orang yang sudah  sejak lama aku incer buat aku korek-korek ilmunya. Uhhh.. Sadar banget sebagai seorang blogger, akhir-akhir ini aku memang benar-benar jauh dari kata produktif. Kerja seharian di depan komputer sukses membuatku malas untuk sekadar buka netbook di rumah, apalagi nulis. Alhasil, alat-alat gambar dan lukis jadi pelarian, pelarian yang mengasyikkan tentunya. Tapi tetap, sesuatu yang hilang tidak akan pernah tergantikan kecuali dengan sesuatu itu sendiri. Ya, seperti menulis yang tidak bisa digantikan oleh menggambar atau melukis. Finally, sejak hari itu aku berniat untuk menata kembali waktuku, juga skala prioritasku. Meski tidak tahu juga nanti bagaimana eksekusinya. Hm.. Hm..

Oya, kemarin kami bertemu di Historia Cafe Surya Yudha Park, Banjarnegara. Tempat yang menurutku memang asik buat ngadain meet up bareng kawan-kawan. Di sana kamu bisa menikmati menu yang kamu pesan sambil memandangi sungai serayu lho. Menu-menunya juga klop di mulut, beberapa kali aku coba, sih, begitu. Ehya, buat kamu yang suka foto, ada spot foto ala-ala dekor studio yang bisa banget kamu coba. Aku juga sempat foto di situ. Ya, biar dikira selalu bahagia lah ya. Hoamz..

Historia Cafe bagian dalam, cocok buat ber-netbook ria karena nggak silau kepantul cahaya
Historia Cafe bagian dalam
Historia Cafe bagian serambi
Historia Cafe bagian serambi
Historia Cafe bagian serambi, memandang ke arah sungai serayu

10 thoughts on “Pertemuan, Menulis, dan Historia Cafe

Leave a Comment