Prinsip..

Prinsip.. Aku yakin, kau juga punya prinsip. Ya, suatu kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir, dasar bertindak. Tapi memang begitulah prinsip, seringkali dibenturkan dengan banyak hal, termasuk sebuah penerimaan.

Menurutmu, apa yang berat dari akibat sebuah penerimaan? Penerimaan di mata orang lain? Ah, tentu saja hanya berputar-putar pada masalah dunia. Tapi sayangnya aku, atau bahkan juga kamu, masih saja sering terjebak dalam masalah itu. Iya, kan? Penerimaan di mata manusia.

Sadarkah kamu, bahwa seiring bumi yang bertambah tua, kebenaran terasa semakin samar? Yang membuatku, atau bahkan juga kamu, harus memakai sebuah kaca mata khusus demi membedakan mana yang benar dana mana yang (hanya) kelihatannya benar. Dan semua itu, seringkali mengusik sebuah prinsip. Ah, sungguh, aku adalah orang yang tidak tahu. Sungguh tiada daya apalagi untuk berupaya, kecuali Tuhan memampukan dan mempertajam mata hati ini. Kau tahu dengan apa? Doa. Kau mau membantu?

Aku yang Memilih Pergi..

Aku yang memilih pergi, berjalan menjauh, ke suatu tempat yang berbeda. Bukan, bukan aku memutus. Tanganku tetap terbuka, akan ada setiap kali kau menjabat. Bukan, bukan juga aku menyalahkan, apa-apa atau siapa-siapa. Aku pun masih belajar. Belajar melangkah setapak demi setapak.

Aku yang memilih pergi, menanggalkan sejenak masa lalu. Bukan, bukan maksudku menghapusnya. Toh, sekeras apa pun usahaku menghapusnya, ia tak akan pernah terhapus. Aku hanya sedang belajar, belajar menata yang perlu ditata.

Nyatanya aku yang memilih pergi. Kalau pun ada rindu, biarlah. Keputusan selalu sarat konsekuensi, bukan?

Pada akhirnya aku yang memilih pergi.. Bagaimana pun nanti, semoga itu yang terbaik. Terbaik untuk semua. Baik aku, kau, dia, mereka, kita semua..

 

Banjarnegara, Ramadan ke-16 2017

Perasaan..

Jika seorang perempuan bicara tentang perasaan, itu sudah menjadi hal yang biasa, kan? Itu juga yang akan aku lakukan sekarang; bicara tentang perasaan. Terus terang saja, akhir-akhir ini kepalaku sering pening—meski sudah lebih baik dari sebelumnya—lantaran sering dikejar-kejar deadline menulis, hingga aku tak sempat bercumbu mesra dengan hatiku sendiri, dengan perasaanku sendiri. Seperti mendengar dan menyuarakannya dalam sebuah tulisan. Ya, itu yang kumaksud.

Read more

Jarak dan Rindu

images (2)Adik, kau punya adik? Aku punya. Entah mengapa tiba-tiba aku teringat dia ketika akan menyalakan netbook ini. Aku teringat saat aku marah-marah gara-gara dia merusak bagian kunci penutup baterai netbook. Padahal rusak pun tidak lantas memengaruhi fungsi netbook alias netbook masih bisa digunakan dengan baik. Tapi memang dasar manusia, terkadang amarah mudah sekali diundang. Benar adanya ketika sabar disebut ilmu tingkat tinggi. Tapi ketika mengingat itu aku malah jadi sedih, merasa bersalah padanya. Ya, meski dia pun juga ceroboh, seringnya begitu, bercanda kelewatan. Tapi meski demikian, tetap saja, mengingat itu jadi sedih. Sejurus kemudian, kukirim pesan singkat padanya, meminta maaf jika aku banyak salah. Dia pun membalas hal yang sama, sama-sama minta maaf atas salahnya selama ini. Ah, jadi rindu dia. Hiks.. (emot nangis, ciwek)

Read more

Adalah Partner Perjuangan..

images (4)“Teman hidup bagiku adalah partner perjuangan,” begitu kata Merry Riana. Aku sepakat. Seperti halnya Lam yang mengajak Gendis untuk berjuang bareng di sisa umur mereka dalam film Alif Lam Mim. Ya, sebuah film yang sangat menginspirasi. Tapi tunggu, aku tidak ingin bicara film itu kali ini, mungkin lain waktu kutulis tentang film itu untuk yang kedua kalinya. Semoga diberi kesempatan.

Kali ini aku ingin bicara tentang partner perjuangan. Partner atau pasangan atau kau bisa menyebutnya jodoh, adalah seseorang yang akan menemani kita berjuang. Itu menurutku. Ya, berjuang di sisa umur kita. Hidup itu perjuangan, kan? Perjuangan untuk mendapat kebahagiaan dan kemuliaan yang hakiki kelak di sisiNya. Karena itulah kita butuh partner yang akan semakin menguatkan langkah kita untuk terus berjalan, memenangkan yang harus kita menangkan. Bukan seseorang yang menjanjikan kita untuk menjamin hidup bahagia. Siapa, sih, yang bisa menjamin hati tidak akan patah? Patah itu soal klasik. Dua orang yang saling mencintai belum tentu tidak akan merasakan patah hati.

Read more

Novel Kolaborasi? Ya!

Foto2151

Aku punya mimpi kawan.. kau tahu apa mimpiku? Ah, kau pasti tak tahu. Sebuah mimpi yang selalu nongol ketika aku teringat novel Siluet Senja. Ya, salah satu novel yang paling aku suka. Inilah satu di antara sekian banyak mimpi-mimpi besarku kawan. Mimpi besar? Ya! Kau boleh tertawa, jika menganggap ini hal yang sepele. Silakan, aku tak melarang… hanya saja kupastilkan jika Dia sudah berkata kun, fayakun. Aku percaya itu, dan kau harus siap menarik tawamu…

Read more

Gila!

Dingin… agaknya itu yang begitu terasa saat ini. Ya, saat ini, di tempat ini, di lantai tiga Masjid Ulul Albab Unnes dingin itu menyergapku hingga menusuk sendi-sendi tulangku. Hembusan dingin nan tajam itu tak segan-segan mengepungku. Ia datang dari segala arah lewat celah-celah tembok yang justru mengizinkannya masuk. Ya, masuk kemudian menerkamku.

Read more