Aku Adalah Gadis Kecil 19 Tahun

[Tulisan ini aku persembahkan untuk dia yang menyayangiku, untuk dia yang memberikan perhatian lebih padaku. Ya, dia.. Bibiku…

Semoga Allah memberikan kesembuhan padamu, Bibi.]

 

Aku Adalah Gadis Kecil 19 Tahun

“Ova, sebentar lagi Mba Arih ke sini. Bikinin kue buat Ova. Anak pinter itu harus apa?”

“Harrrusss sabarrr…”

“Pinter…”

Usia 6 tahun, kala semua masih baik-baik saja. Masih ada perhatian mamah, masih ada guyonan mamah, pun masih ada kekesalan mamah saat aku nakal, meski ia tak menunjukkannya secara langsung.

Hari-hari berlalu. Ada suatu yang aneh yang kutangkap dari mamah, meski aku tak mengerti apa yang terjadi dengan mamah. Mamah tak lagi menemaniku bermain, mamah tak lagi memarahiku ketika aku nakal, bahkan di sudut kamar itu, mamah sering menyendiri. Diam, seperti orang linglung. Sesekali aku penasaran mendekat, tapi ia hanya diam, tak menghiraukanku.

Waktu pun semakin merangkak, merangkak, dan merangkak. Meninggalkan cerita hangat itu, cerita layaknya anak kecil yang renyah dengan tawa bersama orang tuanya. Kini aku lebih sering bermain sendiri, sendiri, dan hanya sendiri. Aku tidak ingin bermain dengan teman-teman, karena aku takut mereka juga tak memedulikanku, seperti mamah yang mungkin lupa bahwa ia punya seorang anak kecil.

Belakangan rumahku ramai, orang-orang berseliweran keluar masuk rumahku. Mereka menemui mamah, mengajak ngobrol mamah, namun anehnya mamah hanya diam kemudian menangis terisak-isak. Aku tak tahu yang terjadi dengan mamah, aku tak mengerti mengapa orang-orang berseliweran keluar masuk rumahku hanya untuk melihat  mamah. Ada yang mereka sebut “Mbah”, ada pula yang mereka sebut “Ki”, aku tak mengerti. Tapi aku tak peduli, aku terus saja hanyut bersama mainan-mainan busuk yang justru seolah mencibirku.

Read more